Dalam rangka memperingati Hari Thalasemia Sedunia yang jatuh setiap tanggal 8 Mei, RSUD Banyumas mengajak masyarakat untuk lebih mengenal penyakit thalasemia serta pentingnya deteksi dini guna mencegah risiko penurunan penyakit kepada generasi berikutnya. Thalasemia merupakan kelainan darah bawaan yang terjadi akibat gangguan pembentukan hemoglobin, sehingga sel darah merah mudah rusak dan menyebabkan penderita mengalami anemia atau kekurangan darah. Penyakit ini dapat diturunkan dari orang tua kepada anak melalui faktor genetik.
Thalasemia terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu Thalasemia Mayor, Thalasemia Minor, dan Thalasemia Intermedia. Pada penderita Thalasemia Mayor, gejala biasanya muncul sejak bayi, seperti pucat, lemah, mudah sakit, hingga membutuhkan transfusi darah rutin sepanjang hidupnya. Sementara itu, Thalasemia Minor umumnya tidak menunjukkan gejala berat dan sering kali baru diketahui melalui pemeriksaan darah. Adapun Thalasemia Intermedia memiliki gejala yang berada di antara keduanya dan terkadang tetap membutuhkan transfusi darah meskipun tidak rutin.
Selain memahami jenisnya, masyarakat juga perlu mengetahui risiko penurunan sifat thalasemia dalam pernikahan. Jika kedua orang tua sama-sama memiliki sifat Thalasemia Minor, maka anak memiliki risiko 25 persen menderita Thalasemia Mayor dan 50 persen menjadi pembawa sifat thalasemia. Risiko yang lebih besar dapat terjadi apabila salah satu atau kedua orang tua mengalami Thalasemia Mayor. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan dan skrining thalasemia sebelum menikah menjadi langkah penting untuk mencegah lahirnya anak dengan thalasemia berat.
Melalui peringatan Hari Thalasemia Sedunia 2026, semoga masyarakat semakin sadar akan pentingnya edukasi, pemeriksaan kesehatan, serta dukungan bagi para penyintas thalasemia. Dengan penanganan yang tepat, seperti transfusi darah rutin, konsumsi obat kelasi besi, dan pemantauan dokter secara berkala, penderita thalasemia tetap dapat menjalani kehidupan dengan lebih optimal dan berkualitas.



0 Komentar